Archives for the month of: September, 2009

PERCAYA KEPADA LAINNYA BERARTI DICABIK DI BELANTARA!

3070365386_0589fa34b3_b

Biarpun dia bemuka tampan dan terlihat menawan. Paman saya datang bersungut-sungut, dadanya panas. “Aku ditipu!” katanya singkat sembari duduk, mukanya kusut, ranselnya yang dia bawa tadi pagi tidak terlihat.

Keparat, mungkin kata itu yang pantas dia umpat kepada penipu itu. Orang yang menipu terihat seperti orang baik, berkedok mencari alamat dan berterima kasih, dia memberi Paman semacam azimat, dan dia pun berlagak memberi segala macam pengarahan untuk penggunaan. Terlampau mencurigakan, entah apa ilmu yang dia gunakan, paman saya yang biasanya anti terhadap segala sesuatu yang bersifat klenik seolah manut. Pada akhirnya tas beserta barang berharganya raib. Ya, dia ditipu, barang berharganya disuruh dimasukkan semuanya ke dalam tas, kemudian Paman disuruh berjalan 200 langkah ke barat untuk membuang jarum yang katanya berasal dari perutnya, begitu dia kembali ke tempat asalnya, voila! Orang yang tadi sudah entah ke mana, beserta barang-barang berharga yang Paman titipkan.

 (more…)

Siteous and share

MUDAH, TINGGAL MENENGADAH DAN PUNDI-PUNDI UANG PUN BERTAMBAH

pengemisDalamSayang MUI memfatwakan haram, pemerintah pun setali tiga uang, malahan nekat menerbitkan undang-undang yang mengancam pemberi sedekah, apa itu bukan berarti menutup pintu amal? Atau kita dikungkung untuk hanya menyumbang kepada badan-badan yang jelas? Yang terdaftar dalam penyumbang uang bagi pusat? Padahal jelas-jelas di depan kita banyak kaum papa yang tidak berdaya, mereka puasa, ya puasa dalam arti sebenarnya, tidak makan.

Anak yatim piatu dan kaum dhuafa adalah golongan yang dipelihara pemerintah, namun kenapa mereka lebih memilih mengamen atau mengmis di pinggir jalan raya? Ada yang tidak beres. Memang sudah bukan rahasia umum lagi kalau pernyataan itu hanyalah isapan jempol belaka, nihil praktiknya. Okelah saya pernah mendengar tentang orang-orang renta yang dikumpulkan di panti wredha dan mereka merasa sejahtera dengan makanan empat sehat lima sempurna. Namun toh ada sekelumit warganya yang tidak kerasan, ingin pulang dan menjalani kehidupan seperti sebelumnya, menjadi pengamen atau pengemis, biarpun setipa sorenya harus rela berlarian menghindar penertiban yang acapkali caranya di luar batas kemanusiaan.

Apa yang pernah saya baca dan saya lihat di layar kaca? Lapak-lapak dibubarkan, dihamburkan beserta dagangan, wanita dan anak-anak ditarik paksa, dirampas hak asasinya, gerobak-gerobak dihamburkan memercikkan kaldu panas dari dalam panci dagangan, semuanya panik, tunggang langgang. Di mana kita dan mereka harus mencari penghidupan? Di kolong jembatan?

Sebenarnya negara juga harus dipenjarakan. Di koran santer terdengar pemerintah meminta pinjaman, mengemis dari institusi internasional untuk menambal lubang-lubang. Tapi toh mereka aman-aman saja, melenggang tanpa rasa bersalah, menghamburkan pinjaman untuk hal yang tidak kelihatan, atau malah biaya membuat undang-undang. Ah, saya jadi ingat tentang peraturan yang mengharuskan anak sekolah masuk pukul 6.30 yang katanya akan dikaji ulang setelah enam bulan berjalan, nyatanya? Bukan kemacetan yang berkurang,  malah jam istirahat yang menjadi korban.

Ya, saya mengeluh, saya iri dengan para pengemis yang pura-pura buta, yang pura-pura buntung. Saya dengki dengan pengamen-pengamen  punk di atas metro mini yang badannya bau tengik, yang hanya menyanyi asall-asalan lantas meminta uang dengan sedikit paksaan. Toh mereka semua mengemis namun sejatinya bisa mencari uang dengan cara yang lebih baik, berusaha. Walaupun begitu mereka bisa dapat uang, makan, mereka bisa menyambung hidup. Saya iri.

_____

gambar diambil dari sini.

Siteous and share