JADI MURID DAN GURU ITU SAMA TIDAK ENAKNYA

Saat itu belajar baru mulai efektif, anak-anak bahkan guru masih banyak yang terkena lag akibat liburan, belajar masih berjalan lambat. Sekonyong-konyong ada murid menguap, si guru mendelik lantas menggebrak meja, tidak diterima dihina, padahal saya kira sang murid tidak bermaksud demikian. Belum cukup, hardikan verbal pun keluar lantas ditamatkan dengan kemoceng yang terbang, nyaris kena, untung tidak. Bukan apa-apa, nantinya guru bisa juga kena perkara selain muridnya yang luka, dan pada akhirnya bisa buntu penyelesaiannya, misal kedua pihak kokoh pendiriannya.
Ya, saya tahu menguap di depan orang yang lebih tua apalagi itu guru bukan sesuatu yang terpuji, salah-salah bisa dianggap menghina, apalagi kalau si orang tua peka rasa. Namun saya juga tidak bisa membenarkan hardikan sembari ada kemoceng melayang, selain bisa salah sasaran, jantung juga dibuat degdegan karena hardikan, padahal saya nggak ikut-ikutan, eh bukan hanya saya, namun juga yang lainnya, yang seketika diam terkaget.
Saya kerap mendengar sadisme dalam mendidik, bukan hanya kemoceng, dulu sewaktu saya SD alat serang favorit adalah kapur, sering meleset karena butuh akurasi yang lumayan, apalagi kalau guru yang melempar sudah beruban. Zaman dulu lebih parah, katanya ada bangku yang ikutan, jelas orang zaman dahulu kekar-kekar, di sekolah mereka dituntut menjadi pendekar.
Kadang kita pikir jadi guru itu nikmat, buat soal, koleksi tugas murid, dan kalau ada yang salah atau tidak bisa tinggal diganjar, diberi tugas tambahan. Ternyata tidak, guru juga punya segudang pekerjaan yang tidak jarang mengompas waktu bersama keluarga, mereka juga mengeluh, sama seperti murid ketika diberi tugas hari raya selama libur lebaran, ketika waktu jalan-jalan menjelma menjadi saat bergulat dengan rumus dan kata yang lama-lama bisa membuat mata tidak awas melihat.
Seyogyanya murid dan guru sama-sama mengerti, bukan cuma kejar setoran, namun juga memikirkan sisi kemanusiaan, karena keduanya sama-sama manusia yang ingin hidup tenteram tanpa rongrongan. Tidak enak bukan melakukan sesuatu karena paksaan?
seharusnya jua kita mengertimeni murid…
klau ada guru yang bawa bangku untuk “menghajar” murid-muridnya,berarti i hanyalah “pejabat guru”. masih banyak orang yang berkepribadian sebagi “guru’,tong…
(sayngnya banyak dari mereka malah tak menjadi “pejabat guru”, T_T….)
[Reply]
hm,,,, qta hanya bisa mengingatkn tong…
bukan malah menggurui guru..
bagaimanapun,mereka tetep guru kita
[Reply]
mastongki Reply:
October 19th, 2009 at 12:40 PM
bukan menggurui, tapi saling mengerti…
[Reply]
ayu tau tong yang dimaksud bacaannya. iya waktu itu ayu juga diem..
[Reply]
mastongki Reply:
October 19th, 2009 at 12:39 PM
nah, makannya kita juga mesti sopan, kan semua orang mau dihargai yu..
[Reply]
Whooaaa..
Alhamdulillah,
udah 2 taun jadi guru tp saya g pnah sesadis itu.
slalu bs mengerti muridd,
dan malah sering menggila bsama muridd.
hahaha.
dan muridd” yg bengal jg bs ‘tunduk’ ma sayaa *hheu xp
Menjadi guru bukanlah impian, tapi tantangan masa depan
[Reply]
mastongki Reply:
October 18th, 2009 at 3:19 PM
saua juga mau jadi guru, tapi… ah sudahlah :p
[Reply]
Ya, sama2 mengerti bahwa guru datang ke sekolah untuk mengajar dan mendidik, sedangkan murid datang ke sekolah untuk belajar. Begitu….
[Reply]
mastongki Reply:
October 18th, 2009 at 3:18 PM
Betul!
[Reply]
tong, seyogyanya ma sejogjanya beda gak?
[Reply]
dosen ga ngeselin, cuma mematikan
[Reply]
mastongki Reply:
October 13th, 2009 at 10:26 AM
setiap ngajar bawa golok gitu?
[Reply]
mulo, kuliah ae. gak ketemu guru. wong cuma ketemu dosen..
[Reply]
mastongki Reply:
October 10th, 2009 at 4:37 PM
dosen itu ngeselin nggak?
[Reply]