APA YANG KAMU INGAT TENTANG JOGJA?

Tentang budaya atau tentang kehidupannya? Kalau saya tentang petualangan yang ditawarkan, sungguh mempesona mata dan rasa. Masih pekat dalam ingatan saya ketika berjalan bertiga bersama kawan di Jogja selama hampir seminggu, menjadi wisatawan pas-pasan dengan segala kehematan, namun justru itu yang menambah kenikmatan dan keakraban.
April lalu saya bersama dua orang kawan pesiar ke Jogja, nama mereka Ari Nova Firnanda (Ari) dan Hardany Triasmanto (Dani), masing-masing dari kami hanya membawa uang tidak lebih dari 500 ribu untuk bekal seminggu. Perencanaan tidak dilakukan dengan maksimal, hanya beberapa hari dan itupun terpotong sekolah, untungnya kami bisa dapat tempat menginap murah, tiga tempat tidur seharga 60 ribu semalam, ada televisi, kipas, dan kamar mandi dalam. Soal letak juga cukup strategis, di kawasan Malioboro.
Berangkat dengan menggunakan kereta senja utama, saya duduk sendiri karena memang kereta sedang sepi. Kami sampai di Jogja Ahad pagi dan dijemput oleh Mas Fickry yang berbaik hati menjadi guide sampai tempat menginap dan mentraktir saya di Pasar Sunday Morning di UGM, di sana saya juga bertemu dengan Mas Iphan sebentar. Setelah kembali ke penginapan saya istirahat, sementara dua kawan saya baru bangun dan jalan-jalan ke benteng Vredeburg. Saya ditinggal. Sore sampai menjelang malam hujan datang dan kami menghabiskan waktu istirahat sembari menonton televisi. Makan malam dilanjutkan di Malioboro yang ternyata mahal nggak ketulungan, dan teman saya hampir kehilangan ponsel karena lupa, untung ada wanita jelita yang membantu dengan sukarela.

Keesokan harinya kami jengjeng candi, Prambanan dan Borobudur, saran saya jika mau mengunjungi kedua candi ini pilihlah tiket terusan, karena selain lebih murah juga lebih mudah. Kami tidak memilih tiket terusan karena keterbatasan pengetahuan
. Dari Malioboro kami naik TransJogja sampai mentok, lanjut jalan sedikit. Prambanan sendiri belum rampung penyusunan ulangnya, beberapa bagian masih terlihat berserakan. Prambanan siang itu terik.

Perjalanan lanjut ke Borobudur, sampai di sana cuaca tidak bersahabat, hujan deras menyambut kami, kami menunggu di pelataran toko selama 2 jam, sempat ingin pulang namun saya bilang jangan, sudah dekat, tanggung. Akhirnya saya nekat menerobos hujan, dua kawan saya pun ikutan, kami basah-basahan sampai komplek candi, selanjutnya menyewa payung. Ternyata pilihan saya tepat, Borobudur lebih indah saat hujan, ada nuansa yang berbeda yang saya rasa ketimbang perjalanan saya ke Borobudur sebelumnya. Rampung memuaskan diri di Borobudur kami meniatkan diri untuk pulang, eh ya kok sakndilalah kendaraan sudah habis, terminal kosong! Untung tak beberapa lama ada rombongan ibu yang satu arah, mereka bilang angkot masih ada walaupun jarang, syukurlah. Selepas naik angkot kami naik bus jurusan Semarang - Yogyakarta, malang tak dapat ditentang, ponsel milik teman saya kini benar-benar hilang, teman yang sama dan ponsel yang sama juga. Biarpun begitu petualangan harus tetap dilanjutkan, kata Dani yang kehilangan.

Selasa, 22 April giliran Gembira Loka dan Parangtritis yang menjadi destinasi. Huru-hara di sana menujukkan bahwa kami sungguh ndesa, jarang ke kebum binatang, apalagi naik perahu angsa. Selesai jalan di Gembira Loka, kami segera bergegas ke Parangtritis mengejar sunset. Sampai Parangtritis tepat waktu, sunset berhasil dikejar namun kami tidak bisa pulang. Jam 5 sore terminal sudah benar-benar lengang, dan kamipun menginap di Parangtritis dengan baju yang basah lantaran dengan bodohnya tidak membawa pakaian salin.

Saya suka melankolis Parangtritis malam hari, deburan ombak dan hamparan bintang, dua orang teman dan khayalan. Kami merenung tentang bagaimana luas dan hebatnya ciptaan yang kuasa.
Esok pagi kami segera bergegas, mangambil bus yang berangkat pagi, ingin segera terlelap di penginapan yang sesungguhnya, menikmati detak jantung kota Jogja. Setelah istirahat hampir 6 jam, kami terbangun dan hasrat jalan-jalan pun kembali terbit. Karena masih lelah kami hanya berjalan sekitar kota saja. Mblusak-mblusuk kota, sentra gudeng wijilan, beberapa museum, dan berakhir di beringin kembar, sayang nggak ada satupun dari kami yang berani mencoba
. Kami salat asar di masjid sekitar beringin, suasanya sungguh syahdu, melihat anak-anak kecil belajar mengaji dan berlari menghindar dari sang kyai.
Soal kyai saya jadi ingat bagaimana beberapa kawan saya yang dulunya nyantri mulai bergaul akrab dengan lawan jenis, tidak mengenal lagi kata pamali. Mungkin zaman yang telah mengubah mereka, karena saya yakin dulu jangankan memandang ke santriwati, melihat kibasan surban kyai saja mereka sudah lari.
Bubar salat kami lanjut jalan tanpa arah, menikmati “ketertinggalan” kota Jogja dengan bangunan yang kuno, yang mengingatkan saya dengan film Galih dan Ratna, romantisme masa lampau.
Malam harinya kami menuju Lempuyangan, mencari tiket kereta ekonomi dan makanan. Kereta ekonomi kami pilih karena memang napas kami tinggal satu-satu, uang hanya tersisa untuk makan dan sedikit bekal. Sebagai pelampiasan sebelum pulang Gudeg Permata menjadi tujuan. Setelah makan kami kembali ke penginapan untuk menyiapkan perjalanan. Membawa oleh-oleh kenangan dari perjalanan dan keakraban bersama yang dibingkis dalam kemasan pengalaman masa SMA paling manis. Sampai jumpa Jogja!


wow..perjalanan yang nyenengin banget tuh,,,
pasti ga bakal dilupain…jadi pengennn
[Reply]
akuuuu juga suka eksotisnya panas jogja,mau resepnya dong ko bisa 500rbu muat seminggu hihii
[Reply]
double yu O double yu….WOW…fantastic
cobalah dengan 110 ribu backpacker-an dari jogja ke Bandung selama 4 hari….not bad khan!!!!
greeting dari new reader of your blog
[Reply]
Jogja emang nganeni! Karena itu diriku pingin ganti KTP ke Jogja.
[Reply]
setujuu!
gue ke borobudur juga pas ujan.
sampe puncak pas lagi gerimis kecil.
dan emang feel nya lebih dapet
[Reply]
wawh….asikk tuh..
[Reply]
mastongki Reply:
October 18th, 2009 at 3:17 PM
memang
[Reply]
Waaaa.. pengen kesanaaa.. dulu sih pernah waktu kecil. tapi kan gak seru.
[Reply]
mastongki Reply:
October 18th, 2009 at 3:17 PM
jogja sekarang makin asyik lho, mbaknya manis-manis :p
[Reply]
waaa~
500ribu uda kebeli ole” belon tuh tong?
[Reply]
mastongki Reply:
October 18th, 2009 at 3:17 PM
bboro-boro oleh-oleh, bisa balik ke jakarta aja udah bersyukur
[Reply]
wah berarti sampean lewat muntilan dong *merasa bangga
*
[Reply]
mastongki Reply:
October 18th, 2009 at 3:18 PM
iya ya?
[Reply]
kaburrr
[Reply]
mastongki Reply:
October 18th, 2009 at 3:17 PM
ikut yok! seru dan mengasyikkan lho
[Reply]
woh! backpacker tenan iki!
[Reply]
mastongki Reply:
October 13th, 2009 at 4:04 PM
mumpung masih SMA, kapan lagi bisa begini
[Reply]