Jangan salahkan orang kalau aib kian cepat meyebar. Informasi sekarang bergerak cepat, melesat layaknya kilat, bahkan yang masih tersimpan rapat selama ada saksi yang melihat, dan sialnya memiliki ingatan kuat, niscaya teman dan kerabat bisa tahu. Bahan acuan bisa dari mana saja, curi dengar, curi pandang, rahasia yang gagal diemban, sampai dari hasil sadapan media sosial, semuanya sama berbahaya.

Tentang orang lain memang selalu menarik dan menggelitik, apalagi menyoal sahabat karib atau lingkungan sekitar, nyaris tak ada titik buta, dan kita sebagai warga verbal tahu betul bagaimana menyulapnya menjadi hiburan, biar kadang bikin kesal. Isu dan fakta kadang disamarkan bedanya, dipelintir sana-sini dan diberi berbagai bumbu penyedap agar nikmat disimak.

Saya juga kerap ngomongin orang kok, tentang siapa yang riwil, sulit menjaga kelakuan, atau sekadar mencari bahan pembicaraan, yah memang kadang berpotensi amat sangat menurunkan nilai kawan (atau lawan) yang dipergunjingkan. Tapi saya ini pengecut, beraninya di belakang, nggak berani terus terang kecuali sudah keterlaluan.

Yah, walaupun cuma iseng guyon toh ada batasnya, menjaga perasaan korban dengan tidak mengarahkan apalagi dengan jelas-jelas menunjukkan. Hendaknya dijaga, toh kita sendiri nggak enak juga kan kalau dijadikan bahan pembicaraan? Eh atau malah bangga?

Siteous and share