
Sejak dulu Jakarta banyak berubah, setidaknya sedari saya lahir hingga kini. Dari mulai sekadar harga roti sampai pada sarana transportasi. Pernah saya meninggalkan ibukota selama dua tahun, ketika kembali rasanya seperti dilempar ke neraka yang lebih jahannam tingkatannya. Cuma dua tahun sungai — atau lebih tepat disebut selokan besar — menjadi kian dangkal, motor semakin banyak, jalanan tambah macet, dan tadi harga jajanan naik pat gulipat berlipat-lipat, membuat anak makin sulit membeli jajanan sehat.
Sampai sekarang, Jakarta masih tetap demikian, warganya kian kebal dan antisipatif. Sudah mati rasa nampaknya, atau cuma sekadar terbiasa? Jalanan terus menggila, antrean di belakang zebra cross memanjang, menunggu lampu merah berubah hijau, pedestrian kian terpinggirkan lantaran trotoar sering dipakai penunggang capung besi, anak sekolah sekarang lumrah tawuran dan di sekolah mereka tiduran, rehat setelah di rumah gagal istirahat. Tapi toh mereka jarang mengeluh, kalaupun ada hanya di depan dan sementara, setelah reda pun ketentuan diteruskan, misal ketika ada wacana akan dibicarakan lagi soal keputusan memajukan jam masuk sekolah setelah satu semester berjalan, toh sampai sekarang tidak terdengar gaungnya, semua sudah kadung diterima dan berjalan.
_____
gambar Fauzi Bowo sebelum diolah diambil dari Koran Tempo edisi 14 Agustus 2008
jakarta, nggak pernah punya niat untuk menetap di sana, tapi kalo sekedar liburan boleh lah.
aku pernah punya pengalaman buruk di jakarta, di bohongin sama kenek bus. brengsek banget, dari situ jadi gimana gitu???
btw sory yah numpang nyoret disini, salam kenal…
[Reply]
awalnya aku pengen sekolah di jakarta. tapi mikir dua kali karena lingkungannya kurang nyaman untuk ditinggali. tapi banyak orang pinter di sana, jadi lingkungannya memajukan. jadi yang benar yang mana?
[Reply]
ndak habis pikir, kenapa orang Jakarta tahan dengan kesemrawutan? Apa tanpa kesemrawutan, ndak bisa hidup ya? Saya sih lebih nyaman hidup di daerah.
[Reply]
jakarta yg warganya kebanyakan protes ketimbang sadar diri
[Reply]