Antara pemimpi dan pemimpin hanya dibedakan oleh satu huruf terakhir, yaitu huruf “N” (via @wisdomgokil)

Sewaktu kecil saya sering berandai-andai menjadi orang penting di negeri ini, tapi selalu saya menempatkan diri sebagai presiden, semakin dewasa semakin saya menemukan banyak masalah, sekali waktu ingin menjadi Mendiknas ketika saya menemukan sistem sekolah yang nggak cocok dengan cara saya belajar dan di waktu lain saya ingin menjadi Menteri Pekerjaan Umum ketika melihat kemacetan yang mengular dan perbaikan jalan yang tak kunjung kelar. Belakangan saya malah ingin jadi Menkominfo ketika koneksi internet kian bebal dan telepon keluar saya sering gagal.

Menarik tampaknya menjadi menteri, biar tidak jarang omongannya dipelintir dan dimusuhi, tapi toh tetap menjadi pemimpin, memegang amanat umat, bertanggung jawab besar, juga kalau jujur — semoga — doanya makbul. Belakangan saya getol bermimpi menjadi Menkominfo sekarang, habis banyak masalah yang datang dan menjadi bahan cercaan, mungkin dengan saya menulis nantinya tulisan saya bisa menginspirasi menkominfo yang sekarang.

UU ITE

Kalau bukan gara-gara Ibu Prita, jelata yang dipenjara karena sedikit angkat kata dan ya, Luna Maya yang jelita itu mungkin khalayak belum sadar kalau UU ITE kita memiliki celah, lubang yang bisa melar dan menjalar, pasal karet begitu istilahnya, tentang pencemaran nama baik. saya yakin Bapak Menkominfo yang sekarang tahu bagaimana baiknya, tinggal dilaksanakan, jangan sampai nantinya makin banyak rakyat yang dijerat gara-gara curhat. Ini prioritas lho bagi saya, karena banyak masyarakat Indonesia yang sudah melek internet dan ada di bawah bayang-bayang UU ini.

TELEKOMUNIKASI

Memang di satu sisi biaya telekomunikasi bagi pengguna kian murah, namun kok ya murahnya harga berimbas pada layanan yang didapatkan, telepon sering putus tiba-tiba, SMS tiba dengan jeda, internet nggak mau nyala, dan belakangan layanan BIS juga kena imbasnya. Ah iya kalau bisa WiMax segera masuk Indonesia, biar — semoga — komunikasi data semakin jaya.

Oh, penggunaan internet untuk perdagangan juga digiatkan. Salah seorang kawan pernah berkata dari barisan toko batik di Solo, hanya tiga yang punya website sebagai media dagangnya, ini terkait dengan mambangun personal branding daerah yang bersangkutan, lebih besar lagi membangun industri dan potensi budaya Indonesia untuk lebih dikenal di luar negeri.

GIMANA SEKSNYA? HOT NGGAK?

Oke, film-film Indonesia sekarang mulai bangun lagi, dua-tiga layar di bioskop diisi oleh film ini, namun kok ya kualitas film yang beredar nggak sejalan dengan kuantitas, tema filmnya belum beranjak, masih berkutat di sekitar komedi dan horor dengan bumbu — maaf — adegan selangkangan. Sepertinya masih wajar kalau yang menonton sesuai klasifikasi dan sebelumnya diverifikasi, misal lewat pemeriksaan KTP. Nah, beberapa pekan ke belakang iseng saya menonton film yang demikian, bukannya ada pemeriksaan identitas, bangku tepat di depan saya malah diisi oleh anak usia enam tahun, leluasa melihat adegan wanita menggeliat-geliat.

Konten tayangan televisi juga akan saya batasi, setidaknya kurangi warta hiburan dan perbanyak acara pendidikan, film berseri bolehlah, asal jangan macam sinetron yang makin jauh episode makin dipaksakan ceritanya. TVRI, ya TVRI akan saya buat sebagai stasiun televisi yang seksi, yang tidak cuma terkenal lewat Pesona Fisika dan Dunia Dalam Beritanya.

PENDIDIKAN TIK

Menkominfo harus bersinergi dengan Mendiknas dalam hal ini. Masak materi Olimpiade Sains Nasional bidang komputer nggak ada hubungannya sama sekali dengan yang dipelajari di sekolah. Coba bandingkan materi OSN lain, semuanya setidaknya pernah di bahas di bangku sekolah. Tidak heran kalau yang menguasai bidang ini adalah sekolah swasta, sementara sekolah negeri masih berkutat dengan aplikasi pengolah kata dan angka.

OPEN SOURCE

Salah memang kalau menekankan kata gratis pada perangkat lunak maupun sistem operasi open source. Orang Indonesia itu maunya yang eksklusif, tekankan bahwa open source itu powerfull dan elegan, tidak seperti yang banyak orang gunakan. Penggunaan open source ini pun harus ditekankan mulai dari tingkat sekolah sampai kantor pemerintah, jangan setengah-setengah. Ambil contoh kepolisian Perancis yang bermigrasi ke sistem open source untuk manajemennya. Dan ah iya, konon open source itu bisa membuat kerja pegawai negeri kian efektif dan efisien karena game untuk open source itu masih jarang yang benar-benar keren.

Itu semua mimpi-mimpi saya, masih banyak sebenarnya, tapi kali ini cukup sekian. Semoga nanti dapat diwujudkan, tenang kalau toh belum periode ini, tahun 2029 saya yang akan mewujudkan, setidaknya kalau belum basi dan ketingalan zaman.

BUKAN SEBERAPA BESAR SEBUAH MIMPI UNTUK KAMU, TAPI SEBERAPA BESAR KAMU UNTUK MIMPI ITU. - Sang Pemimpi

_____

foto 1 diambil di flickr atas akun smif dengan lisensi Creative Common

foto 2 diambil di flickr atas akun splorp dengan lisensi Creative Common

Siteous and share