Menyenangkan sekaligus menentramkan. Buat saya pribadi hujan itu adalah saat ketika waktu berjalan lambat, saat untuk menikmati detik yang berjalan lamat-lamat sambil menikmati secangkir teh hangat.

Hujan selalu sukses menaikkan mood saya, membuat kembali ceria, biar cuma sejenak, namun menentramkan, memberi semesta pikiran sebuah momentum jeda. Awan mendung, angin yang semilir, dan sesekali kilat dan gemuruh guruh adalah sesuatu yang selalu saya nanti, terutama lepas siang dan malam hari. Hujan datang menjadi wahana permainan dan acara wajib tonton. Hujan pergi meninggalkan senyuman, bau tanah basah, dan sejuk yang acap menjadi selimut.

Semasa kecil di kota, saya senang bermain sepeda kala hujan, balapan dengan kawan, adu balap di lintasan licin. Berbahaya memang, namun mengasyikkan mengayuh pedal dan membuat baju kotor terkena cipratan lumpur dari ban belakang. Sesekali jatuh berdarah dan meringis kesakitan, tapi toh tidak menjadi penghalang untuk mengulang. Ada kala lain saya dan kawan bermain bola, tendangan lambung, umpan silang, dan jebloskan ke antara dua tiang pemancang yang berfungsi sebagai batas gawang, kadang bukan tiang, tapi sekadar tumpukan sandal para pemain. Menyenangkan walau bukan di lapangan, melainkan di tengah jalan komplek yang sepi.

Saat sekolah di desa hujan jauh lebih saya resapi, bersekolah di tempat yang muridnya banyak yang bertelanjang kaki dan bernaluri alami sungguh merupakan pengalaman tersendiri. Ketika harus pulang naik gunung, dulu saya yang merasa jijik melepas sepatu akhirnya mengalah ketika tapak yang harus dipijak berupa tanah lembek, percuma pakai sepatu. Payung di tempat saya termasuk barang langka, sehingga dipakai daun pisang atau daun talas sebagai pelindung badan dari tempias hujan, namun toh sia-sia, baju sekolah tetap basah kuyup. Begitu juga ketika pulang dari surau di malam hari, obor tak menyala, jalan gelap gulita, maka jalan pun harus mengandalkan pengalaman dan keberuntungan, salah-salah terperosok ke jurang, mengerikan.

Ketika besar, sekarang saya menjadi pengecut, hanya berani memandang dari balik tirai hujan yang jatuh bergelimpangan, saya terlalu takut untuk bergembira ria di tengah hujan. Mendadak saya punya sejuta alasan untuk menolak berjalan di tengah hujan, padahal kadang saya sangat ingin…

Siteous and share