Mungkin kita memanggil Tuhan dengan nama yang berbeda, persetan dengan warna kulit dan bentuk mata, kita bersaudara karena berada dan mencintai tanah yang sama, Indonesia.
Hari ini Pecinan sepi, toko-toko menutup diri, bukan karena Ahad yang memang sejak dulu berwarna merah mereka menutup jalan rezeki, tapi karena ini Imlek, ada sebuah perayaan besar setahun sekali. Jeruk, kue keranjang, dan olahan ikan terhidang, di klenteng ada dupa dan lilin yang terbakar, wangi asap yang khas mebumbung khusyuk.
Ingatan saya berputar ke sekitar tahun 1998 ketika kerusuhan besar di Indonesia terjadi, suasana tidak bisa setenang ini. Orang-orang Cina menjadi korban, mereka jadi sasaran pembakaran, penjarahan, bahkan pemerkosaan, biadab. Apa salah mereka? Banyak yang bilang mereka sudah menguasai sendi ekonomi kita pada tahun 1998, sampai pada sektor mikro, warung-warung di tikungan. Maka, saat ada kesusahan mereka yang jadi target amukan karena mereka dianggap telah mengambil banyak dari Indonesia. Saat itu mendadak ada keresahan, mereka yang berduit memilih pergi ke luar cari aman, sementara yang tidak berkecukupan mencari tempat persembunyian sementara. Mereka mengalami trauma sosial, butuh waktu lama untuk menyembuhkannya dan menaruh kepercayaan kembali pada Indonesia dan rakyatnya.
Sekarang sedikit berbeda, mereka sudah percaya, biarpun kita belum. Buktinya masih ada pembakaran tempat ibadah dan adanya semacam hukuman sosial pada orang Cina, mereka dicemooh, bahkan dijadikan frasa tersendiri untuk mengatai seseorang, “Cina!”. Maknanya kurang lebih, pelit, sipit, kikir, atau cepat rusak. Asimilasi memang sudah terjadi, memakai nama yang terdengar lebih Indonesia sudah mereka lakukan, tapi toh mereka tidak bisa menyembunyikan ciri fisik yang putih dan sipit, dan karena itulah mereka selalu resah, apalagi jika menjadi minoritas di suatu lingkungan, saya melihat itu di mata salah satu teman sekolah saya.
Mereka memang tidak nyaman sampai sekarang, tapi toh itu tidak membuat mereka kejam sepenuhnya kepada kita, pribumi, buktinya masih ada hantaran kue kerajang ke rumah saya, biar tidak sepaket dengan bakpao dan angpao.
Kapan kita bisa sepenuhnya mengasihi, memberi ketupat saat lebaran, bertukar bingkisan saat natal, dan berbagi kebahagiaan saat imlek. Sekarang itu semua masih mimpi di negara yang setiap siswa Sekolah Dasar sudah dijejali dengan “Bhinneka Tunggal Ika”.
____
Cina, bukan China, atau Tionghoa, saya lebih suka menggunakan kata Cina bukan untuk merendahkan, namun lebih menekankan kepada hakikat penyebutan dan tidak membedakan, mohon maaf bagi yang kurang berkenan.
gambar diambil dari sini dengan Creative Common License

beberapa teman di kampus memanggil saya “koh cin” — meski lebih banyak hanya dengan “koh” saja.
belum apa-apa, saya sudah diejek pelit. karena hanya sekadar mengeluhkan harga anggurmerah yang naik 4000-5000 karena cukai 2010. seakan sifat “pelit” itui adalah sifat default saya walaupun belum kenal. padahal saya tidak penah ragu untuk berbagi rokok. menyedihkan.
padahal kulit saya sudah terbakar cokelat. dan lebih lagi — padahal saya hanya peranakan generasi kesekian (dari buyut). tetap saja panggilan “koh” melekat di kampus [yang katanya] kerakyatan itu.
tapi persetan lah. saya nggak pernah peduli.
saya cuma pernah marah besar sekali. entah bercanda atau serius, seorang teman pernah nyeletuk, “dasar cina. toko di jogja ini dikuasai mereka. orang indonesia ini harus bersatu melawan dan mengusir itu orang cina yang sudah menjajah.”
saya kebetulan baru datang. dan cuma bilang, “apa yang orang indonesia? indonesia ini namanya baru ditemukan tahun 1920an. baru berbentuk negara tahun 1945. dan ‘orang cina’ yang anda sebut tadi adalah bagian dari negara — dan juga bangsa — indonesia ini. mereka sudah ada di nusantara sejak zaman kerajaan hindu-buddha. saat nusantara ini masih belum menjadi indonesia.”
saat itu saya makin hakulyakin, nasionalisme kita sebagian besar hanya nasionalisme yang bahkan lebih parah dari nasionalisme buta, yaitu nasionalisme yang tidak tahu apa-apa.
[Reply]
1998 sdh lahir? hemm..
Rasanya menghargai perbedaan lebih asyik daripada membahas perbedaan. Cina, Jawa, Sumara, Nusa Tenggara, Irian, Maluku .. apa saja ..
[Reply]
tergantung orangnya masing2 sih… teman saya ada yang nggak keberatan disebut “Cina”, ada pula yang menyebut dirinya “Tionghoa” atau “Chinese”..
[Reply]
lha piye Tong? Imlek kemarin dapet angpao berapa?
Anyway, menurut saya kalau kita menyebut mereka Cina, itu malah tak menghargai mereka sebagai warga negara Indonesia.
[Reply]