<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>dustalelaki! &#187; Personal</title>
	<atom:link href="http://dustalelaki.com/category/personal/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dustalelaki.com</link>
	<description>tempat celotehan kata suka-suka.</description>
	<lastBuildDate>Thu, 20 May 2010 11:15:21 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<image>
<link>http://dustalelaki.com</link>
<url>http://dustalelaki.com/wp-content/uploads/2009/10/logoputih.ico</url>
<title>dustalelaki!</title>
</image>
		<item>
		<title>Kereta Belanda-Indonesia : Dari Sejarah Sampai Taruhan Nyawa</title>
		<link>http://dustalelaki.com/2010/04/30/kereta-belanda-indonesia-dari-sejarah-sampai-taruhan-nyawa/</link>
		<comments>http://dustalelaki.com/2010/04/30/kereta-belanda-indonesia-dari-sejarah-sampai-taruhan-nyawa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Apr 2010 16:28:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tongki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[belanda]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kai]]></category>
		<category><![CDATA[kereta api]]></category>
		<category><![CDATA[kompetiblog]]></category>
		<category><![CDATA[studi di belanda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dustalelaki.com/?p=348</guid>
		<description><![CDATA[Saya ingat kutipan yang diambil dari @wisdomgokil yang berbunyi&#160;:
Hidup dan mati itu ada di tangan Tuhan, tapi kita yang memengang&#160;goloknya.
Lucu dan sinis karena setahu saya hidup dan mati itu ketentuan yang tidak bisa diubah lagi, kalau sudah waktunya ya sudah&#8230; tewas. Tapi saya merenung tentang kutipan itu setiap kali pergi dan pulang sekolah. Kebetulan sekolah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://kompetiblog2010.studidibelanda.com/"><img class="alignleft" title="Kompetiblog 2010" src="http://kompetiblog2010.studidibelanda.com/banner/kompetiblog2010.png" alt="" width="215" height="215" /></a>Saya ingat kutipan yang diambil dari <a href="http://twitter.com/wisdomgokil" target="_blank">@wisdomgokil</a> yang berbunyi&nbsp;:</p>
<p><em>Hidup dan mati itu ada di tangan Tuhan, tapi kita yang memengang&nbsp;goloknya.</em></p>
<p>Lucu dan sinis karena setahu saya hidup dan mati itu ketentuan yang tidak bisa diubah lagi, kalau sudah waktunya ya sudah&#8230; tewas. Tapi saya merenung tentang kutipan itu setiap kali pergi dan pulang sekolah. Kebetulan sekolah saya dekat dengan jalur kereta api, sehingga setiap saya terhalang oleh palang saya bisa melihat bagaimana kondisi kereta yang sedang berjalan, ada pedagang asongan, perempuan bergelantungan, sampai penumpang di atap yang angin-anginan. Ngeri buat saya, pilihan buat mereka. Menurut saya ya mereka itu yang &#8216;<em>memegang golok</em>&#8217; atas hidup mereka sendiri, hidup dan mati tergantung hoki.<span id="more-348"></span></p>
<p><strong><span class="caps">KERETA</span> <span class="caps">API</span>&nbsp;<span class="caps">INDONESIA</span></strong></p>
<p>Kereta pertama yang saya tumpangi menurut orang tua saya adalah Senja Utama, kereta kelas bisnis dari Yogyakarta yang singgah di stasiun terdekat di kota kelahiran saya, Kebumen. Setelah sekian lama, dari Senja Utama saya dapati adalah toilet yang pesing, penjaja nasi yang itu-itu saja, serta beberapa kaca yang sudah tidak ada pada tempatnya. Itu masih mending dibandingkan dengan kereta Sawunggalih Utama, kelas ekonomi. Sumpek luar biasa. Setahu saya keduanya, baik Senja Utama maupun Sawunggalih Utama jenis keretanya sama, yang beda hanya rupa dan harga&nbsp;karcisnya.</p>
<p>Kereta api sendiri menurut wikipedia telah ada di Indonesia sejak tahun  1867 dimulai di Semarang menggunakan lokomotif uap. Dengan demikian dipastikan kereta api muncul di Indonesia pada zaman penjajahan Belanda, dengan orang Indonesia sebagai pekerja paksa yang menyusun jalur rel kereta apinya. Saya akui peninggalan Belanda yang satu ini banyak faedahnya, terutama bagi saya rakyat jelata yang agak alergi naik pesawat udara. Kereta api sendiri di zaman penjajahan Belanda dulu selain digunakan untuk mengangkut manusia, utamanya sebagai fasilitas pembawa hasil bumi. Batubara di Sawahlunto, Sumatera Barat misalnya. Karena diutamakan untuk mengangkut hasil bumi, lazimnya jalur rel bermuara di dekat pelabuhan, Tj. Priok dan Tj. Perak&nbsp;contohnya.</p>
<p>Pada perkembangannya, moda transportasi peninggalan zaman Belanda ini tidak lagi sekadar menjadi alat transportasi dan pengangkut hasil bumi, tapi juga alat wisata, sarana tamasya. Sebut saja kereta nusantara yang harus melalui prosedur dan harga khusus kalau ingin menaikinya, atau kereta di Sumatera Barat yang beroperasi setiap akhir minggu untuk mengangkut wisatawan, dan terakhir ada juga kereta yang dijalankan di dalam kota Solo, yang terakhir saya belum pernah melihat langsung, semoga saya bisa segera&nbsp;menaikinya.</p>
<p>Di Hindia Belanda, selain kereta uap dan diesel ada juga kereta rel listrik. Kereta rel listrik pertama kali dipergunakan untuk menghubungkan Batavia dengan Jatinegara atau Meester Cornelis pada tahun 1925. Pada waktu itu digunakan rangkaian kereta rel listrik sebanyak 2 kereta, yang bisa disambung menjadi 4 kereta, yang dibuat oleh Werkspoor dan Heemaf&nbsp;Hengelo.</p>
<address style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="KRL" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/0/04/Railcars.jpg" alt="" width="450" height="335" />Tiga macam kereta rel listrik di stasiun Bogor. Dari kiri ke kanan, <span class="caps">KRL</span> Rheostat Jepang buatan 1983/1984, <span class="caps">KRL</span> Holec Belanda-Belgia buatan 1996, dan <span class="caps">KRL</span> Rheostat Jepang buatan 1986/1987</address>
<address style="text-align: center;"> </address>
<p><strong><span class="caps">STASIUN</span> <span class="caps">KERETA</span>&nbsp;<span class="caps">API</span></strong></p>
<p>Saya senang sendiri kalau membahas stasiun kereta api karena beberapa stasiun yang pernah saya kunjungi memiliki bentuk bangunan yang ciamik, unik. Kebanyakan yang saya singgahi adalah stasiun-stasiun tua yang telah melewati pemugaran beberapa kali, namun toh dari semua stasiun itu masih kental nuansa Eropa klasiknya, misalnya stasiun Tugu Yogyakarta yang sekarang terlihat lebih modern dengan tempat duduk berbahan logam di bagian peron (<em>Aha! Peron! Berapa coba sekarang karcisnya?</em>), Stasiun Tanjung Priok dan Jakarta  Kota, Stasiun Bogor, bahkan stasiun kecil antara Semarang dan Solo  dibangun sangat indah seperti Kedung Jati, Salem, Gundih, Sumberlawang. Stasiun-stasiun itu seperti punya roh sendiri yang membuat mereka karismatis dan tetap kokoh&nbsp;berdiri.</p>
<p><strong><span class="caps">KEHIDUPAN</span> <span class="caps">SEKITAR</span>&nbsp;<span class="caps">REL</span></strong></p>
<p>Bicara kereta nggak mungkin kita lupakan kehidupan sepanjang relnya. Beda jauh dengan Belanda yang kian hari kian maju, di Indonesia kepala stasiun saja belum tentu berada, apalagi bawahan dan masyarakat yang tinggal di pinggiran jalur kereta. Setiap malam ada petugas khusus pemeriksa rel, mereka berjalan sekian kilometer untuk memeriksa apakah ada bagian rel yang cacat atau harus diperbaiki. Kalau saya sih ogah, selain gajinya nggak seberapa katanya setiap tugasnya sering ada lelembut yang menemani, <em>hiii</em>. Masih di sekitar rel, kalau kita naik <span class="caps">KRL</span> di Jakarta saat sore hari, kita bisa melihat anak-anak muda bermain bola di lapangan, pedagang sayuran di pinggiran, sampai pasar loak yang mepet rel, pokoknya Jakarta banget&nbsp;deh.</p>
<p><strong><span class="caps">MEMBANDINGKAN</span> <span class="caps">INDONESIA</span> <span class="caps">DENGAN</span>&nbsp;<span class="caps">BELANDA</span></strong></p>
<p><strong><a rel="attachment wp-att-349" href="http://dustalelaki.com/2010/04/30/kereta-belanda-indonesia-dari-sejarah-sampai-taruhan-nyawa/psemacon1/"><img class="size-full wp-image-349 aligncenter" title="psemacon1" src="http://dustalelaki.com/wp-content/uploads/2010/04/psemacon1.jpg" alt="" width="450" height="302" /></a></strong>Jauh. Sangat jauh kalau boleh dibilang ketertinggalan Indonesia di bidang perkeretaapian jika dibanding yang meninggalkan sistemnya, Belanda. Saat kita masih repot impor gerbong bekas, Belanda sudah melesat dengan kereta lintas Eropanya, <span class="caps">TGV</span>, yang biarpun punya Perancis tapi Belanda turut mengatur manajemennya. Memang sulit mengatur kereta di Indonesia, tapi saya yakin bisa. Kita belum perlu mematut diri dengan Belanda karena memang belum pantas, sepantasnya kita belajar lagi kepada Belanda tentang transportasi yang satu ini. Masih banyak yang harus dibenahi tentang kereta api, relokasi penduduk sekitar jalur rel, kesejahteraan karyawan <span class="caps">PT</span>. <span class="caps">KAI</span>, dan sebagainya. Masih sangat banyak sampai tahap warga tidak lagi menggelar koran di atap kereta api, sampai warga tidak lagi membuat pintu kereta sebagai tempat atraksi, dan sampai warga nyaman dan bangga dengan <span class="caps">PT</span>.&nbsp;<span class="caps">KAI</span>.</p>
<p>_____</p>
<p>Gambar <span class="caps">KRL</span> diambil dari <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kereta_Rel_Listrik" target="_blank">Wikipedia&nbsp;Indonesia</a>.</p>
<p>Gambar <span class="caps">TGV</span> diambil dari&nbsp;<a href="http://www.trainweb.org/tgvpages/images/index.html" target="_blank">sini</a>.</p>
<p class="siteous"><a href="http://siteo.us/?url=http://dustalelaki.com/2010/04/30/kereta-belanda-indonesia-dari-sejarah-sampai-taruhan-nyawa/" target="_blank">Siteous and&nbsp;share</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dustalelaki.com/2010/04/30/kereta-belanda-indonesia-dari-sejarah-sampai-taruhan-nyawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terakhir Jatuh Cinta&#8230;.</title>
		<link>http://dustalelaki.com/2010/04/29/terkahir-jatuh-cinta/</link>
		<comments>http://dustalelaki.com/2010/04/29/terkahir-jatuh-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Apr 2010 17:56:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tongki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[jatuh]]></category>
		<category><![CDATA[pagi buta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dustalelaki.com/?p=336</guid>
		<description><![CDATA[
Kapan terakhir kamu jatuh cinta? Terkahir kamu membayangkan jalan berdua di bawah payung bening saat gerimis dan berbagi earphone yang menyenandungkan lagu-lagu macam L.O.V.E-nya Micahel Buble, yang konon membuat rintik hujan tak lagi dingin layaknya es yang baru mencair. Kapan terakhir kamu berharap bahwa jangan cuma kamu yang tahu bahwa ada orang yang kamu tuju, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a rel="attachment wp-att-337" href="http://dustalelaki.com/2010/04/29/terkahir-jatuh-cinta/dansa/"><img class="aligncenter size-thumbnail wp-image-337" title="dansa" src="http://dustalelaki.com/wp-content/uploads/2010/04/dansa-500x275.jpg" alt="" width="450" height="248" /></a></p>
<p>Kapan terakhir kamu jatuh cinta? Terkahir kamu membayangkan jalan berdua di bawah payung bening saat gerimis dan berbagi <em>earphone</em> yang menyenandungkan lagu-lagu macam <span class="caps">L.O.V.</span>E-nya Micahel Buble, yang konon membuat rintik hujan tak lagi dingin layaknya es yang baru mencair. Kapan terakhir kamu berharap bahwa jangan cuma kamu yang tahu bahwa ada orang yang kamu tuju, yang kamu sayang dan cemburu melihatnya bersama yang lain?<span id="more-336"></span></p>
<p>Oh, aku merasa beku saat ini, mengingat detik-detik mengkhayal tentang wanita dan senyum yang merekah di parasnya. Tersirat pekat di anganku pipinya yang jingga merona dan rambut hitamnya yang penuh pesona. Aku kerap berseloroh dengannya namun aku selalu takut untuk berbicara sejujurnya, perihal keinginanku padanya yang tiada habisnya. Aku bisa menghabiskan separuh mimpi di malam hari untuk melihatnya menari sampai pagi. Aku bisa menghabiskan waktu menunggu lampu lalu lintas berubah hijau dengan membayangkan dia merebahkan kepalanya di pundakku, kemudian menyibakkan rambutnya ke&nbsp;samping.</p>
<p>Sejujurnya aku cinta&nbsp;dia.</p>
<p>Dengan keterbatasanku aku ingin dia tahu, dengan larik-larik kata ini aku harap dia bisa mengerti, paham kalau aku terlampau kecut mengungkapkan rasa. Aku mau menjadi cahaya untuk meneranginya, menjadi telinga untuk mendengarnya, menjadi mimpi untuk memuaskan angan-angannya, dan menjadi aku untuk bersamanya.&nbsp;Selamanya.</p>
<p>_____</p>
<p>gambar diambil dari&nbsp;<a href="http://www.flickr.com/photos/the8rgrl/309584010/" target="_blank">sini</a>.</p>
<p class="siteous"><a href="http://siteo.us/?url=http://dustalelaki.com/2010/04/29/terkahir-jatuh-cinta/" target="_blank">Siteous and&nbsp;share</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dustalelaki.com/2010/04/29/terkahir-jatuh-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Air</title>
		<link>http://dustalelaki.com/2010/04/19/air/</link>
		<comments>http://dustalelaki.com/2010/04/19/air/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Apr 2010 10:47:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tongki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[air]]></category>
		<category><![CDATA[earthlive]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dustalelaki.com/?p=324</guid>
		<description><![CDATA[

Paska perang dunia ketiga ada paceklik air, surya yang kian pijar, dan alam yang makin liar. Manusia hilang akal sehat, berperang demi secuil kenyamanan dan sedikit ketenangan, soal perut sudah tak jadi soal, kucing kurus pun bisa diburu dan dimakan, bahkan olahan daging mayat manusia sudah jadi lauk sampingan. Yang masalah adalah air. Sumbernya terbatas, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">
<p><a rel="attachment wp-att-333" href="http://dustalelaki.com/2010/04/19/air/air-2/"><img class="aligncenter size-full wp-image-333" title="AIR" src="http://dustalelaki.com/wp-content/uploads/2010/04/AIR.png" alt="" width="450" height="250" /></a></p>
<p>Paska perang dunia ketiga ada paceklik air, surya yang kian pijar, dan alam yang makin liar. Manusia hilang akal sehat, berperang demi secuil kenyamanan dan sedikit ketenangan, soal perut sudah tak jadi soal, kucing kurus pun bisa diburu dan dimakan, bahkan olahan daging mayat manusia sudah jadi lauk sampingan. Yang masalah adalah air. Sumbernya terbatas, tidak semuanya bersih, dan tentu banyak yang merebutkan. Pada saatnya, tiap orang diberi jatah yang terbatas, jangankan mencuci baju, mandi pun rasanya mereka sudah lupa.<span id="more-324"></span></p>
<p>Begitulah latar suasana film &#8216;<em>The Book of Eli</em>&#8217; yang menceriterakan tentang perjalanan alkitab terakhir. Banyak pelajaran yang saya ambil dari film tersebut, salah satunya adalah tentang air. Nanti, bukannya kita tidak mungkin berperang merebutkan apa yang sekarang banyak kita sia-siakan, air misalnya. Kedepannya bukan tidak mungkin siklus air kacau dan air menjadi barang mewah atau karena pertumbuhan penduduk yang semakin pesat suatu negara nekad membelokkan aliran air dari negara tetangga, kemudian keduanya benkonfrontasi dan banyak pihak yang tewas. Mungkin ada masanya air menjadi pembunuh utama umat&nbsp;manusia.</p>
<p>Tidak  usah jauh-jauh, penduduk Jakarta Utara dan Banten bagian utara sudah sejak lama mengandalkan pedagang air bersih yang menjual airnya perjeriken lima ribu rupiah. Mau nggak mau mereka mesti membelinya kalau mau minum dan mengolah masakan dengan aman. Ya, mereka harus beli dari <em>bakul-bakul</em> air tersebut, air dari <span class="caps">PDAM</span> kecokelatan dan jarang keluar, sementara air langsung dari tanah berasa asin dan bikin gatal. Modyar. Padahal orang lebih mudah tewas karena kurang air ketimbang karena&nbsp;pangan.</p>
<p>____</p>
<p>Hak cipta grafis :&nbsp;pribadi.</p>
<p class="siteous"><a href="http://siteo.us/?url=http://dustalelaki.com/2010/04/19/air/" target="_blank">Siteous and&nbsp;share</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dustalelaki.com/2010/04/19/air/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cina</title>
		<link>http://dustalelaki.com/2010/02/14/cina/</link>
		<comments>http://dustalelaki.com/2010/02/14/cina/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Feb 2010 14:36:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tongki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[1998]]></category>
		<category><![CDATA[cina]]></category>
		<category><![CDATA[imlek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dustalelaki.com/?p=294</guid>
		<description><![CDATA[
Mungkin kita memanggil Tuhan dengan nama yang berbeda, persetan dengan warna kulit dan bentuk mata, kita bersaudara karena berada dan mencintai tanah yang sama,&#160;Indonesia.
Hari ini Pecinan sepi, toko-toko menutup diri, bukan karena Ahad yang memang sejak dulu berwarna merah mereka menutup jalan rezeki, tapi karena ini Imlek, ada sebuah perayaan besar setahun sekali. Jeruk, kue [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-295" href="http://dustalelaki.com/2010/02/14/cina/2957659371_7cf3d2deeb_o/"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-295" title="2957659371_7cf3d2deeb_o" src="http://dustalelaki.com/wp-content/uploads/2010/02/2957659371_7cf3d2deeb_o-500x275.jpg" alt="" width="450" height="248" /></a></p>
<p style="padding-left: 30px;"><em>Mungkin kita memanggil Tuhan dengan nama yang berbeda, persetan dengan warna kulit dan bentuk mata, kita bersaudara karena berada dan mencintai tanah yang sama,&nbsp;Indonesia.</em></p>
<p>Hari ini Pecinan sepi, toko-toko menutup diri, bukan karena Ahad yang memang sejak dulu berwarna merah mereka menutup jalan rezeki, tapi karena ini Imlek, ada sebuah perayaan besar setahun sekali. Jeruk, kue keranjang, dan olahan ikan terhidang, di klenteng ada dupa dan lilin yang terbakar, wangi asap yang khas mebumbung khusyuk.<span id="more-294"></span></p>
<p>Ingatan saya berputar ke sekitar tahun 1998 ketika kerusuhan besar di Indonesia terjadi, suasana tidak bisa setenang ini. Orang-orang Cina menjadi korban, mereka jadi sasaran pembakaran, penjarahan, bahkan pemerkosaan, biadab. Apa salah mereka? Banyak yang bilang mereka sudah menguasai sendi ekonomi kita pada tahun 1998, sampai pada sektor mikro, warung-warung di tikungan. Maka, saat ada kesusahan mereka yang jadi target amukan karena mereka dianggap telah mengambil banyak dari Indonesia. Saat itu mendadak ada keresahan, mereka yang berduit memilih pergi ke luar cari aman, sementara yang tidak berkecukupan mencari tempat persembunyian sementara. Mereka mengalami trauma sosial, butuh waktu lama untuk menyembuhkannya dan menaruh kepercayaan kembali pada Indonesia dan&nbsp;rakyatnya.</p>
<p>Sekarang sedikit berbeda, mereka sudah percaya, biarpun kita belum. Buktinya masih ada pembakaran tempat ibadah dan adanya semacam hukuman sosial pada orang Cina, mereka dicemooh, bahkan dijadikan frasa tersendiri untuk mengatai seseorang, &#8220;Cina!&#8221;. Maknanya kurang lebih, pelit, sipit, kikir, atau cepat rusak. Asimilasi memang sudah terjadi, memakai nama yang terdengar lebih Indonesia sudah mereka lakukan, tapi toh mereka tidak bisa menyembunyikan ciri fisik yang putih dan sipit, dan karena itulah mereka selalu resah, apalagi jika menjadi minoritas di suatu lingkungan, saya melihat itu di mata salah satu teman sekolah&nbsp;saya.</p>
<p>Mereka memang tidak nyaman sampai sekarang, tapi toh itu tidak membuat mereka kejam sepenuhnya kepada kita, pribumi, buktinya masih ada hantaran kue kerajang ke rumah saya, biar tidak sepaket dengan bakpao dan&nbsp;angpao.</p>
<p>Kapan kita bisa sepenuhnya mengasihi, memberi ketupat saat lebaran, bertukar bingkisan saat natal, dan berbagi kebahagiaan saat imlek. Sekarang itu semua masih mimpi di negara yang setiap siswa Sekolah Dasar sudah dijejali dengan &#8220;<em>Bhinneka Tunggal&nbsp;Ika</em>&#8221;.</p>
<p>____</p>
<p><em>Cina</em>, bukan China, atau Tionghoa, saya lebih suka menggunakan kata Cina bukan untuk merendahkan, namun lebih menekankan kepada hakikat penyebutan dan tidak membedakan, mohon maaf bagi yang kurang&nbsp;berkenan.</p>
<p>gambar diambil dari <a href="http://www.flickr.com/photos/trustmeiamnotageek/" target="_blank">sini</a> dengan Creative Common&nbsp;License</p>
<p class="siteous"><a href="http://siteo.us/?url=http://dustalelaki.com/2010/02/14/cina/" target="_blank">Siteous and&nbsp;share</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dustalelaki.com/2010/02/14/cina/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buatku Hujan Itu&#8230;</title>
		<link>http://dustalelaki.com/2010/01/18/buatku-hujan-itu/</link>
		<comments>http://dustalelaki.com/2010/01/18/buatku-hujan-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jan 2010 15:51:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tongki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[bermain]]></category>
		<category><![CDATA[hujan]]></category>
		<category><![CDATA[musim]]></category>
		<category><![CDATA[surau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dustalelaki.com/?p=273</guid>
		<description><![CDATA[Menyenangkan sekaligus menentramkan. Buat saya pribadi hujan itu adalah saat ketika waktu berjalan lambat, saat untuk menikmati detik yang berjalan lamat-lamat sambil menikmati secangkir teh hangat.
Hujan selalu sukses menaikkan mood saya, membuat kembali ceria, biar cuma sejenak, namun menentramkan, memberi semesta pikiran sebuah momentum jeda. Awan mendung, angin yang semilir, dan sesekali kilat dan gemuruh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-282" href="http://dustalelaki.com/2010/01/18/buatku-hujan-itu/13756_1243847891840_1098644135_728133_7695551_n/"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-282" title="13756_1243847891840_1098644135_728133_7695551_n" src="http://dustalelaki.com/wp-content/uploads/2010/01/13756_1243847891840_1098644135_728133_7695551_n-500x275.jpg" alt="" width="450" height="248" /></a>Menyenangkan sekaligus menentramkan. Buat saya pribadi hujan itu adalah saat ketika waktu berjalan lambat, saat untuk menikmati detik yang berjalan lamat-lamat sambil menikmati secangkir teh hangat.<span id="more-273"></span></p>
<p>Hujan selalu sukses menaikkan <em>mood</em> saya, membuat kembali ceria, biar cuma sejenak, namun menentramkan, memberi semesta pikiran sebuah momentum jeda. Awan mendung, angin yang semilir, dan sesekali kilat dan gemuruh guruh adalah sesuatu yang selalu saya nanti, terutama lepas siang dan malam hari. Hujan datang menjadi wahana permainan dan acara wajib tonton. Hujan pergi meninggalkan senyuman, bau tanah basah, dan sejuk yang acap menjadi&nbsp;selimut.</p>
<p>Semasa kecil di kota, saya senang bermain sepeda kala hujan, balapan dengan kawan, adu balap di lintasan licin. Berbahaya memang, namun mengasyikkan mengayuh pedal dan membuat baju kotor terkena cipratan lumpur dari ban belakang. Sesekali jatuh berdarah dan meringis kesakitan, tapi toh tidak menjadi penghalang untuk mengulang. Ada kala lain saya dan kawan bermain bola, tendangan lambung, umpan silang, dan jebloskan ke antara dua tiang pemancang yang berfungsi sebagai batas gawang, kadang bukan tiang, tapi sekadar tumpukan sandal para pemain. Menyenangkan walau bukan di lapangan, melainkan di tengah jalan komplek yang&nbsp;sepi.</p>
<p>Saat sekolah di desa hujan jauh lebih saya resapi, bersekolah di tempat yang muridnya banyak yang bertelanjang kaki dan bernaluri alami sungguh merupakan pengalaman tersendiri. Ketika harus pulang naik gunung, dulu saya yang merasa jijik melepas sepatu akhirnya mengalah ketika tapak yang harus dipijak berupa tanah lembek, percuma pakai sepatu. Payung di tempat saya termasuk barang langka, sehingga dipakai daun pisang atau daun talas sebagai pelindung badan dari tempias hujan, namun toh sia-sia, baju sekolah tetap basah kuyup. Begitu juga ketika pulang dari surau di malam hari, obor tak menyala, jalan gelap gulita, maka jalan pun harus mengandalkan pengalaman dan keberuntungan, salah-salah terperosok ke jurang,&nbsp;mengerikan.</p>
<p>Ketika besar, sekarang saya menjadi pengecut, hanya berani memandang dari balik tirai hujan yang jatuh bergelimpangan, saya terlalu takut untuk bergembira ria di tengah hujan. Mendadak saya punya sejuta alasan untuk menolak berjalan di tengah hujan, padahal kadang saya sangat&nbsp;ingin&#8230;</p>
<p class="siteous"><a href="http://siteo.us/?url=http://dustalelaki.com/2010/01/18/buatku-hujan-itu/" target="_blank">Siteous and&nbsp;share</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dustalelaki.com/2010/01/18/buatku-hujan-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masih Banyak Sih&#8230;.</title>
		<link>http://dustalelaki.com/2009/12/24/masih-banyak-sih/</link>
		<comments>http://dustalelaki.com/2009/12/24/masih-banyak-sih/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 05:02:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tongki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[menkominfo]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[telepon]]></category>
		<category><![CDATA[tik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dustalelaki.com/?p=251</guid>
		<description><![CDATA[
Antara pemimpi dan pemimpin hanya dibedakan oleh satu huruf terakhir, yaitu huruf &#8220;N&#8221; (via&#160;@wisdomgokil)
Sewaktu kecil saya sering berandai-andai menjadi orang penting di negeri ini, tapi selalu saya menempatkan diri sebagai presiden, semakin dewasa semakin saya menemukan banyak masalah, sekali waktu ingin menjadi Mendiknas ketika saya menemukan sistem sekolah yang nggak cocok dengan cara saya belajar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-252" href="http://dustalelaki.com/2009/12/24/masih-banyak-sih/2227205782_5310dd3dbd/"><img class="size-thumbnail wp-image-252 alignleft" title="2227205782_5310dd3dbd" src="http://dustalelaki.com/wp-content/uploads/2009/12/2227205782_5310dd3dbd-500x275.jpg" alt="" width="450" height="248" /></a></p>
<p style="padding-left: 30px;"><em>Antara pemimpi dan pemimpin hanya dibedakan oleh satu huruf terakhir, yaitu huruf &#8220;N&#8221;</em> (via&nbsp;<a href="http://twitter.com/wisdomgokil" target="_blank">@wisdomgokil</a>)</p>
<p>Sewaktu kecil saya sering berandai-andai menjadi orang penting di negeri ini, tapi selalu saya menempatkan diri sebagai presiden, semakin dewasa semakin saya menemukan banyak masalah, sekali waktu ingin menjadi Mendiknas ketika saya menemukan sistem sekolah yang nggak cocok dengan cara saya belajar dan di waktu lain saya ingin menjadi Menteri Pekerjaan Umum ketika melihat kemacetan yang mengular dan perbaikan jalan yang tak kunjung kelar. Belakangan saya malah ingin jadi Menkominfo ketika koneksi internet kian bebal dan telepon keluar saya sering gagal.<span id="more-251"></span></p>
<p>Menarik tampaknya menjadi menteri, biar tidak jarang omongannya dipelintir dan dimusuhi, tapi toh tetap menjadi pemimpin, memegang amanat umat, bertanggung jawab besar, juga kalau jujur&thinsp;&#8212;&thinsp;semoga&thinsp;&#8212;&thinsp;doanya makbul. Belakangan saya getol bermimpi menjadi Menkominfo sekarang, habis banyak masalah yang datang dan menjadi bahan cercaan, mungkin dengan saya menulis nantinya tulisan saya bisa menginspirasi menkominfo yang&nbsp;sekarang.</p>
<p><strong><span class="caps">UU</span>&nbsp;<span class="caps">ITE</span></strong></p>
<p>Kalau bukan gara-gara Ibu Prita, jelata yang dipenjara karena sedikit angkat kata dan ya, Luna Maya yang jelita itu mungkin khalayak belum sadar kalau <span class="caps">UU</span> <span class="caps">ITE</span> kita memiliki celah, lubang yang bisa melar dan menjalar, pasal karet begitu istilahnya, tentang pencemaran nama baik. saya yakin Bapak Menkominfo yang sekarang tahu bagaimana baiknya, tinggal dilaksanakan, jangan sampai nantinya makin banyak rakyat yang dijerat gara-gara curhat. Ini prioritas lho bagi saya, karena banyak masyarakat Indonesia yang sudah melek internet dan ada di bawah bayang-bayang <span class="caps">UU</span>&nbsp;ini.</p>
<p><strong><span class="caps">TELEKOMUNIKASI</span></strong></p>
<p><a rel="attachment wp-att-257" href="http://dustalelaki.com/2009/12/24/masih-banyak-sih/telepon/"><img class="size-thumbnail wp-image-257 alignleft" title="telepon" src="http://dustalelaki.com/wp-content/uploads/2009/12/telepon-500x275.jpg" alt="" width="450" height="248" /></a></p>
<p>Memang di satu sisi biaya telekomunikasi bagi pengguna kian murah, namun kok ya murahnya harga berimbas pada layanan yang didapatkan, telepon sering putus tiba-tiba, <span class="caps">SMS</span> tiba dengan jeda, internet nggak mau nyala, dan belakangan layanan <span class="caps">BIS</span> juga kena imbasnya. Ah iya kalau bisa WiMax segera masuk Indonesia, biar&thinsp;&#8212;&thinsp;semoga&thinsp;&#8212;&thinsp;komunikasi data semakin&nbsp;jaya.</p>
<p>Oh, penggunaan internet untuk perdagangan juga digiatkan. Salah seorang kawan pernah berkata dari barisan toko batik di Solo, hanya tiga yang punya website sebagai media dagangnya, ini terkait dengan mambangun personal branding daerah yang bersangkutan, lebih besar lagi membangun industri dan potensi budaya Indonesia untuk lebih dikenal di luar&nbsp;negeri.</p>
<p><strong><span class="caps">GIMANA</span> <span class="caps">SEKSNYA</span>? <span class="caps">HOT</span>&nbsp;<span class="caps">NGGAK</span>?</strong></p>
<p>Oke, film-film Indonesia sekarang mulai bangun lagi, dua-tiga layar di bioskop diisi oleh film ini, namun kok ya kualitas film yang beredar nggak sejalan dengan kuantitas, tema filmnya belum beranjak, masih berkutat di sekitar komedi dan horor dengan bumbu&thinsp;&#8212;&thinsp;maaf&thinsp;&#8212;&thinsp;adegan selangkangan. Sepertinya masih wajar kalau yang menonton sesuai klasifikasi dan sebelumnya diverifikasi, misal lewat pemeriksaan <span class="caps">KTP</span>. Nah, beberapa pekan ke belakang iseng saya menonton film yang demikian, bukannya ada pemeriksaan identitas, bangku tepat di depan saya malah diisi oleh anak usia enam tahun, leluasa melihat adegan wanita&nbsp;menggeliat-geliat.</p>
<p>Konten tayangan televisi juga akan saya batasi, setidaknya kurangi warta hiburan dan perbanyak acara pendidikan, film berseri bolehlah, asal jangan macam sinetron yang makin jauh episode makin dipaksakan ceritanya. <span class="caps">TVRI</span>, ya <span class="caps">TVRI</span> akan saya buat sebagai stasiun televisi yang seksi, yang tidak cuma terkenal lewat Pesona Fisika dan Dunia Dalam&nbsp;Beritanya.</p>
<p><strong><span class="caps">PENDIDIKAN</span>&nbsp;<span class="caps">TIK</span></strong></p>
<p>Menkominfo harus bersinergi dengan Mendiknas dalam hal ini. Masak materi Olimpiade Sains Nasional bidang komputer nggak ada hubungannya sama sekali dengan yang dipelajari di sekolah. Coba bandingkan materi <span class="caps">OSN</span> lain, semuanya setidaknya pernah di bahas di bangku sekolah. Tidak heran kalau yang menguasai bidang ini adalah sekolah swasta, sementara sekolah negeri masih berkutat dengan aplikasi pengolah kata dan&nbsp;angka.</p>
<p><strong><span class="caps">OPEN</span>&nbsp;<span class="caps">SOURCE</span></strong></p>
<p>Salah memang kalau menekankan kata gratis pada perangkat lunak maupun sistem operasi open source. Orang Indonesia itu maunya yang eksklusif, tekankan bahwa open source itu powerfull dan elegan, tidak seperti yang banyak orang gunakan. Penggunaan open source ini pun harus ditekankan mulai dari tingkat sekolah sampai kantor pemerintah, jangan setengah-setengah. Ambil contoh kepolisian Perancis yang bermigrasi ke sistem open source untuk manajemennya. Dan ah iya, konon open source itu bisa membuat kerja pegawai negeri kian efektif dan efisien karena game untuk open source itu masih jarang yang benar-benar&nbsp;keren.</p>
<p>Itu semua mimpi-mimpi saya, masih banyak sebenarnya, tapi kali ini cukup sekian. Semoga nanti dapat diwujudkan, tenang kalau toh belum periode ini, tahun 2029 saya yang akan mewujudkan, setidaknya kalau belum basi dan ketingalan&nbsp;zaman.</p>
<p><strong><span class="caps">BUKAN</span> <span class="caps">SEBERAPA</span> <span class="caps">BESAR</span> <span class="caps">SEBUAH</span> <span class="caps">MIMPI</span> <span class="caps">UNTUK</span> <span class="caps">KAMU</span>, <span class="caps">TAPI</span> <span class="caps">SEBERAPA</span> <span class="caps">BESAR</span> <span class="caps">KAMU</span> <span class="caps">UNTUK</span> <span class="caps">MIMPI</span> <span class="caps">ITU</span></strong>. - Sang&nbsp;Pemimpi</p>
<p>_____</p>
<p><em>foto 1 diambil di flickr atas akun <a href="http://www.flickr.com/photos/smif" target="_blank">smif</a> dengan lisensi Creative&nbsp;Common</em></p>
<p><em>foto 2 diambil di flickr atas akun <a href="http://www.flickr.com/photos/splorp/64027565/" target="_blank">splorp </a>dengan lisensi Creative Common<br />
</em></p>
<p class="siteous"><a href="http://siteo.us/?url=http://dustalelaki.com/2009/12/24/masih-banyak-sih/" target="_blank">Siteous and&nbsp;share</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dustalelaki.com/2009/12/24/masih-banyak-sih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jakarta yang Alakadarnya</title>
		<link>http://dustalelaki.com/2009/11/21/jakarta-yang-alakadarnya/</link>
		<comments>http://dustalelaki.com/2009/11/21/jakarta-yang-alakadarnya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 07:43:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tongki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[banjir]]></category>
		<category><![CDATA[fauzi bowo]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[macet]]></category>
		<category><![CDATA[musim]]></category>
		<category><![CDATA[sekolah]]></category>
		<category><![CDATA[transportasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dustalelaki.com/?p=238</guid>
		<description><![CDATA[
Sejak dulu Jakarta banyak berubah, setidaknya sedari saya lahir hingga kini. Dari mulai sekadar harga roti sampai pada sarana transportasi. Pernah saya meninggalkan ibukota selama dua tahun, ketika kembali rasanya seperti dilempar ke neraka yang lebih jahannam tingkatannya. Cuma dua tahun sungai&#8201;&#8212;&#8201;atau lebih tepat disebut selokan besar&#8201;&#8212;&#8201;menjadi kian dangkal, motor semakin banyak, jalanan tambah macet, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-239" title="foke" src="http://dustalelaki.com/wp-content/uploads/2009/11/foke.png" alt="foke" width="450" height="248" /></p>
<p>Sejak dulu Jakarta banyak berubah, setidaknya sedari saya lahir hingga kini. Dari mulai sekadar harga roti sampai pada sarana transportasi. Pernah saya meninggalkan ibukota selama dua tahun, ketika kembali rasanya seperti dilempar ke neraka yang lebih jahannam tingkatannya. Cuma dua tahun sungai&thinsp;&#8212;&thinsp;atau lebih tepat disebut selokan besar&thinsp;&#8212;&thinsp;menjadi kian dangkal, motor semakin banyak, jalanan tambah macet, dan tadi harga jajanan naik pat gulipat berlipat-lipat, membuat anak makin sulit membeli jajanan&nbsp;sehat.</p>
<p><span id="more-238"></span>Sampai sekarang, Jakarta masih tetap demikian, warganya kian kebal dan antisipatif. Sudah mati rasa nampaknya, atau cuma sekadar terbiasa? Jalanan terus menggila, antrean di belakang <em>zebra cross</em> memanjang, menunggu lampu merah berubah hijau, pedestrian kian terpinggirkan lantaran trotoar sering dipakai penunggang capung besi, anak sekolah sekarang lumrah tawuran dan di sekolah mereka tiduran, rehat setelah di rumah gagal istirahat.  Tapi toh mereka jarang mengeluh, kalaupun ada hanya di depan dan sementara, setelah reda pun ketentuan diteruskan, misal ketika ada wacana akan dibicarakan lagi soal keputusan memajukan jam masuk sekolah setelah satu semester berjalan, toh sampai sekarang tidak terdengar gaungnya, semua sudah kadung diterima dan&nbsp;berjalan.</p>
<p>_____</p>
<p><em>gambar Fauzi Bowo sebelum diolah diambil dari Koran Tempo edisi 14 Agustus&nbsp;2008</em></p>
<p class="siteous"><a href="http://siteo.us/?url=http://dustalelaki.com/2009/11/21/jakarta-yang-alakadarnya/" target="_blank">Siteous and&nbsp;share</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dustalelaki.com/2009/11/21/jakarta-yang-alakadarnya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Si Anu yang Begitu</title>
		<link>http://dustalelaki.com/2009/10/30/tentang-si-anu-yang-begitu-2/</link>
		<comments>http://dustalelaki.com/2009/10/30/tentang-si-anu-yang-begitu-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 17:10:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tongki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dustalelaki.com/2009/10/30/tentang-si-anu-yang-begitu-2/</guid>
		<description><![CDATA[
Jangan salahkan orang kalau aib kian cepat meyebar. Informasi sekarang bergerak cepat, melesat layaknya kilat, bahkan yang masih tersimpan rapat selama ada saksi yang melihat, dan sialnya memiliki ingatan kuat, niscaya teman dan kerabat bisa tahu. Bahan acuan bisa dari mana saja, curi dengar, curi pandang, rahasia yang gagal diemban, sampai dari hasil sadapan media [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://farm4.static.flickr.com/3004/3069855417_47f226ba24_b.jpg" alt="" width="450" height="338" /></p>
<p>Jangan salahkan orang kalau aib kian cepat meyebar. Informasi sekarang bergerak cepat, melesat layaknya kilat, bahkan yang masih tersimpan rapat selama ada saksi yang melihat, dan sialnya memiliki ingatan kuat, niscaya teman dan kerabat bisa tahu. Bahan acuan bisa dari mana saja, curi dengar, curi pandang, rahasia yang gagal diemban, sampai dari hasil sadapan media sosial, semuanya sama&nbsp;berbahaya.</p>
<p><span id="more-208"></span>Tentang orang lain memang selalu menarik dan menggelitik, apalagi menyoal sahabat karib atau lingkungan sekitar, nyaris tak ada titik buta, dan kita sebagai warga verbal tahu betul bagaimana menyulapnya menjadi hiburan, biar kadang bikin kesal. Isu dan fakta kadang disamarkan bedanya, dipelintir sana-sini dan diberi berbagai bumbu penyedap agar nikmat&nbsp;disimak.</p>
<p>Saya juga kerap ngomongin orang kok, tentang siapa yang riwil, sulit menjaga kelakuan, atau sekadar mencari bahan pembicaraan, yah memang kadang berpotensi amat sangat menurunkan nilai kawan (atau lawan) yang dipergunjingkan. Tapi saya ini pengecut, beraninya di belakang, nggak berani terus terang kecuali sudah&nbsp;keterlaluan.</p>
<p>Yah, walaupun cuma iseng guyon toh ada batasnya, menjaga perasaan korban dengan tidak mengarahkan apalagi dengan jelas-jelas menunjukkan. Hendaknya dijaga, toh kita sendiri nggak enak juga kan kalau dijadikan bahan pembicaraan? Eh atau malah&nbsp;bangga?</p>
<p class="siteous"><a href="http://siteo.us/?url=http://dustalelaki.com/2009/10/30/tentang-si-anu-yang-begitu-2/" target="_blank">Siteous and&nbsp;share</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dustalelaki.com/2009/10/30/tentang-si-anu-yang-begitu-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aha! Hadiah Ada Di Mana-Mana!</title>
		<link>http://dustalelaki.com/2009/10/19/aha-hadiah-ada-di-mana-mana/</link>
		<comments>http://dustalelaki.com/2009/10/19/aha-hadiah-ada-di-mana-mana/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 07:46:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tongki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[award]]></category>
		<category><![CDATA[hadiah]]></category>
		<category><![CDATA[pb2009]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dustalelaki.com/?p=160</guid>
		<description><![CDATA[PestaBlogger 2009 tinggal menghitung hari, ayo berpartisipasi! Banyak acara yang dihelat berarti juga banyak hadiah yang ditebar. Salah satu acaranya adalah Pesta Blogger XL Blog Award. Sistem penilaiannya adalah dengan online voting, eh hadiahnya bukan cuma untuk nominator tapi juga akan diundi untuk pemilih yang beruntung. Prosesnya singkat tidak memakan waktu lebih lama ketimbang menyeduh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PestaBlogger 2009 tinggal menghitung hari, ayo berpartisipasi! Banyak acara yang dihelat berarti juga banyak hadiah yang ditebar. Salah satu acaranya adalah <a href="http://award.pestablogger.com/" target="_blank">Pesta Blogger <span class="caps">XL</span> Blog Award</a>. Sistem penilaiannya adalah dengan online voting, eh hadiahnya bukan cuma untuk nominator tapi juga akan diundi untuk pemilih yang beruntung. Prosesnya singkat tidak memakan waktu lebih lama ketimbang menyeduh kopi instan, tinggal ketik email yang digunakan, dan voila! Anda sudah berkesempatan mendapat hadiah, semakin sering voting semakin besar kesempatan Anda untuk&nbsp;menang.</p>
<p>Eh kebetulan blog ini jadi salah satu nominator, boleh juga kalau berkenan memilih blog ini <span style="color: #000000;"><strong><a href="http://siteo.us/F2" target="_blank">di sini</a></strong></span>.  Semoga Anda (juga saya) beruntung,&nbsp;ya&#8230;.</p>
<p><span id="more-160"></span>_____</p>
<p>update : link berubah dan cara vote pun berubah <img src='http://dustalelaki.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  maaf sudah ngerepotin ya.. Eh sistem yang sekarang votenya bisa combo, berikut blog-blog yang saya&nbsp;rekomendasikan:</p>
<address>Photoblog : Gage Batubara ; <a href="http://photos.sevenova.net" target="_blank">http://photos.sevenova.net</a><br />
</address>
<address>Blog Perjalanan dan Pariwisata Terbaik : Muhammad Zamroni ; <a href="http://jengjeng.matriphe.com" target="_blank">http://jengjeng.matriphe.com</a></address>
<address>Blog Sosial <span class="amp">&amp;</span> Politik Terbaik : Anandita Puspitasari dkk. ; <a href="http://bogorwatch.wordpress.com/" target="_blank">http://bogorwatch.wordpress.com</a></address>
<address>Blog Komputer dan Teknologi Terbaik : Pitra Satvika ; <a href="http://media-ide.com">http://media-ide.com</a><br />
</address>
<address>Blog Remaja Terbaik : Ratna Hartiningtyas ; <a href="http://nengratna.blogspot.com" target="_blank">http://nengratna.blogspot.com</a><br />
</address>
<address>dan tentu Blog Baru Terbaik : Tongki Ari Wibowo ; <a href="http://dustalelaki.com" target="_blank">http://dustalelaki.com</a></address>
<address></address>
<p class="siteous"><a href="http://siteo.us/?url=http://dustalelaki.com/2009/10/19/aha-hadiah-ada-di-mana-mana/" target="_blank">Siteous and&nbsp;share</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dustalelaki.com/2009/10/19/aha-hadiah-ada-di-mana-mana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jogja yang Seyogyanya</title>
		<link>http://dustalelaki.com/2009/10/13/jogja-yang-seyogyanya/</link>
		<comments>http://dustalelaki.com/2009/10/13/jogja-yang-seyogyanya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 07:32:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>tongki</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal]]></category>
		<category><![CDATA[borobudur]]></category>
		<category><![CDATA[gembira loka]]></category>
		<category><![CDATA[horee]]></category>
		<category><![CDATA[jengjeng]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[prambanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dustalelaki.com/?p=124</guid>
		<description><![CDATA[APA YANG KAMU INGAT TENTANG&#160;JOGJA?

Tentang budaya atau tentang kehidupannya? Kalau saya tentang petualangan yang ditawarkan, sungguh mempesona mata dan rasa. Masih pekat dalam ingatan saya ketika berjalan bertiga bersama kawan di Jogja selama hampir seminggu, menjadi wisatawan pas-pasan dengan segala kehematan, namun justru itu yang menambah kenikmatan dan&#160;keakraban.
April lalu saya bersama dua orang kawan pesiar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span class="caps">APA</span> <span class="caps">YANG</span> <span class="caps">KAMU</span> <span class="caps">INGAT</span> <span class="caps">TENTANG</span>&nbsp;<span class="caps">JOGJA</span>?</strong></p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-129" title="dolan" src="http://dustalelaki.com/wp-content/uploads/2009/10/dolan.jpg" alt="dolan" width="500" height="375" /></p>
<p>Tentang budaya atau tentang kehidupannya? Kalau saya tentang petualangan yang ditawarkan, sungguh mempesona mata dan rasa. Masih pekat dalam ingatan saya ketika berjalan bertiga bersama kawan di Jogja selama hampir seminggu, menjadi wisatawan pas-pasan dengan segala kehematan, namun justru itu yang menambah kenikmatan dan&nbsp;keakraban.</p>
<p><span id="more-124"></span>April lalu saya bersama dua orang kawan pesiar ke Jogja, nama mereka Ari Nova Firnanda (Ari) dan Hardany Triasmanto (Dani), masing-masing dari kami hanya membawa uang tidak lebih dari 500 ribu untuk bekal seminggu. Perencanaan tidak dilakukan dengan maksimal, hanya beberapa hari dan itupun terpotong sekolah, untungnya kami bisa dapat tempat menginap murah, tiga tempat tidur  seharga 60 ribu semalam, ada televisi, kipas, dan kamar mandi dalam. Soal letak juga cukup strategis, di kawasan&nbsp;Malioboro.</p>
<p>Berangkat dengan menggunakan kereta senja utama, saya duduk sendiri karena memang kereta sedang sepi. Kami sampai di Jogja Ahad pagi dan dijemput oleh <a href="http://defickry.wordpress.com" target="_blank">Mas Fickry</a> yang berbaik hati menjadi guide sampai tempat menginap dan mentraktir saya di Pasar Sunday Morning di <span class="caps">UGM</span>, di sana saya juga bertemu dengan Mas Iphan sebentar. Setelah kembali ke penginapan saya istirahat, sementara dua kawan saya baru bangun dan jalan-jalan ke benteng Vredeburg. Saya ditinggal. Sore sampai menjelang malam hujan datang dan kami menghabiskan waktu istirahat sembari menonton televisi. Makan malam dilanjutkan di Malioboro yang ternyata mahal <em>nggak</em> ketulungan, dan teman saya hampir kehilangan ponsel karena lupa, untung ada wanita jelita yang membantu dengan&nbsp;sukarela.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-136" title="prambanan" src="http://dustalelaki.com/wp-content/uploads/2009/10/prambanan.jpg" alt="prambanan" width="500" height="375" /></p>
<p>Keesokan harinya kami <em>jengjeng </em>candi, Prambanan dan Borobudur, saran saya jika mau mengunjungi kedua candi ini pilihlah tiket terusan, karena selain lebih murah juga lebih mudah. Kami tidak memilih tiket terusan karena keterbatasan pengetahuan <img src='http://dustalelaki.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  . Dari Malioboro kami naik TransJogja sampai mentok, lanjut jalan sedikit. Prambanan sendiri belum rampung penyusunan ulangnya, beberapa bagian masih terlihat berserakan. Prambanan siang itu&nbsp;terik.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-127" title="borobudur berdua" src="http://dustalelaki.com/wp-content/uploads/2009/10/borobudur-berdua.jpg" alt="borobudur berdua" width="483" height="362" /></p>
<p>Perjalanan lanjut ke Borobudur, sampai di sana cuaca tidak bersahabat, hujan deras menyambut kami, kami menunggu di pelataran toko selama 2 jam, sempat ingin pulang namun saya bilang jangan, sudah dekat, tanggung. Akhirnya saya nekat menerobos hujan, dua kawan saya pun ikutan, kami basah-basahan sampai komplek candi, selanjutnya menyewa payung. Ternyata pilihan saya tepat, Borobudur lebih indah saat hujan, ada nuansa yang berbeda yang saya rasa ketimbang perjalanan saya ke Borobudur sebelumnya. Rampung memuaskan diri di Borobudur kami meniatkan diri untuk pulang, eh ya kok sakndilalah kendaraan sudah habis, terminal kosong! Untung tak beberapa lama ada rombongan ibu yang satu arah, mereka bilang angkot masih ada walaupun jarang, syukurlah. Selepas naik angkot kami naik bus jurusan Semarang - Yogyakarta, malang tak dapat ditentang, ponsel milik teman saya kini benar-benar hilang, teman yang sama dan ponsel yang sama juga. Biarpun begitu petualangan harus tetap dilanjutkan, kata Dani yang&nbsp;kehilangan.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-126" title="borobudur 3" src="http://dustalelaki.com/wp-content/uploads/2009/10/borobudur-3.jpg" alt="borobudur 3" width="302" height="226" /></p>
<p>Selasa, 22 April giliran Gembira Loka dan Parangtritis yang menjadi destinasi. Huru-hara di sana menujukkan bahwa kami sungguh <em>ndesa</em>, jarang ke kebum binatang, apalagi naik perahu angsa. Selesai jalan di Gembira Loka, kami segera bergegas ke Parangtritis mengejar <em>sunset</em>. Sampai Parangtritis tepat waktu, <em>sunset </em>berhasil dikejar namun kami tidak bisa pulang. Jam 5 sore terminal sudah benar-benar lengang, dan kamipun menginap di Parangtritis dengan baju yang basah lantaran dengan bodohnya tidak membawa pakaian&nbsp;salin.</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-134" title="paris" src="http://dustalelaki.com/wp-content/uploads/2009/10/paris-225x300.jpg" alt="paris" width="225" height="300" /></p>
<p>Saya suka melankolis Parangtritis malam hari, deburan ombak dan hamparan bintang, dua orang teman dan khayalan. Kami merenung tentang bagaimana luas dan hebatnya ciptaan yang&nbsp;kuasa.</p>
<p>Esok pagi kami segera bergegas, mangambil bus yang berangkat pagi, ingin segera terlelap di penginapan yang sesungguhnya, menikmati detak jantung kota Jogja. Setelah istirahat hampir 6 jam, kami terbangun dan hasrat jalan-jalan pun kembali terbit.  Karena masih lelah kami hanya berjalan sekitar kota saja. <em>Mblusak-mblusuk</em> kota, sentra gudeng wijilan, beberapa museum, dan berakhir di beringin kembar, sayang nggak ada satupun dari kami yang berani mencoba <img src='http://dustalelaki.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  . Kami salat asar di masjid sekitar beringin, suasanya sungguh syahdu, melihat anak-anak kecil belajar mengaji dan berlari menghindar dari sang&nbsp;kyai.</p>
<p>Soal kyai saya jadi ingat bagaimana beberapa kawan saya yang dulunya nyantri mulai bergaul akrab dengan lawan jenis, tidak mengenal lagi kata <em>pamali</em>. Mungkin zaman yang telah mengubah mereka, karena saya yakin dulu jangankan memandang ke santriwati, melihat kibasan surban kyai saja mereka sudah&nbsp;lari.</p>
<p>Bubar salat kami lanjut jalan tanpa arah, menikmati &#8220;ketertinggalan&#8221; kota Jogja dengan bangunan yang kuno, yang mengingatkan saya dengan film Galih dan Ratna, romantisme masa&nbsp;lampau.</p>
<p>Malam harinya kami menuju Lempuyangan, mencari tiket kereta ekonomi dan makanan. Kereta ekonomi kami pilih karena memang napas kami tinggal satu-satu, uang hanya tersisa untuk makan dan sedikit bekal. Sebagai pelampiasan sebelum pulang Gudeg Permata menjadi tujuan. Setelah makan kami kembali ke penginapan untuk menyiapkan perjalanan. Membawa oleh-oleh kenangan dari perjalanan dan keakraban bersama yang dibingkis dalam kemasan pengalaman masa <span class="caps">SMA</span> paling manis. Sampai jumpa&nbsp;Jogja!</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-128" title="ciluk ba" src="http://dustalelaki.com/wp-content/uploads/2009/10/ciluk-ba-300x225.jpg" alt="ciluk ba" width="300" height="225" /></p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-131" title="gembira" src="http://dustalelaki.com/wp-content/uploads/2009/10/gembira-300x225.jpg" alt="gembira" width="300" height="225" /></p>
<p class="siteous"><a href="http://siteo.us/?url=http://dustalelaki.com/2009/10/13/jogja-yang-seyogyanya/" target="_blank">Siteous and&nbsp;share</a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dustalelaki.com/2009/10/13/jogja-yang-seyogyanya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
